LDA Lebih Sakral Ritual Malem Selikuran nya

Maret 21, 2025
Jumat, 21 Maret 2025


 Kanjeng Pangeran (KP) Dr Edhie Wirabhumi SH MH suami dari Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koes Moertiyah MPd, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

GUGAT news.com SOLO

Ditemui di ruang kerjanya di kantor Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kamis (20/3) malam yang bertepatan dengan adanya ritual sakral Mapak atau menjemput Lailatul Qadar atau yang lebih familiar disebut Malem Selikuran, Kangjeng Pangeran (KP) Dr Edhie Wirabhumi SH MH, mengungkapkan jika Malem Selikuran yang dilakukan oleh LDA sudah sesuai dengan tradisi adat dari jaman Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berdiri (1745).

"Tanpa bermaksud menyalahkan satu dengan lainnya, justru malahan bisa saling mengisi akan digelarnya Malem Selikuran oleh Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dengan LDA. Ubo rampe atau pendukungnya Malem Selikuran sama, yang membedakan hanya masalah tirakat laku jalan kakinya saja. PB XIII dari Keraton berjalan menuju Taman Sriwedari, sedangkan LDA dari keraton menuju Masjid Gede," papar KP Dr Edhie Wirabhumi SH MH.

Dari semenjak awal, tambah Kangjeng Wiro, sapaan akrab KP Dr Edhie Wirabhumi SH MH, ritual sakral Mapak atau menjemput Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1000 bulan itu, dimulai dari Kori Kamandungan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat keluar menuju ke arah kanan atau timur mentok lalu ke arah selatan mentok yang kini dipergunakan untuk Kantor Kalurahan Baluwarti.

Dari Kantor Kalurahan Baluwarti terus berjalan ke arah barat hingga Ndalem Putwohamijayan baru arah ke udara mentok Mangkuyudan, dari sinilah langsungg kembali ke arah timur masuk Kamandungan yang diteruskan keluar Kori Brojonolo Lor lanjut ke Masjid Agung. Di Masjid Agung atau Masjid Gede, iba rampe 1000 tumpeng kecil didoakan oleh ulama keraton. Selesai didoakan, selanjutnya Sego gurih atau nasi gurih dibagikannya kepada pengunjung Masjid Agung.

"Intinya laku prihatin dengan berjalan, baik itu Devile Drumband Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, barisan ulama dan santri, hadrah remaja putri dan ibu ibu, pembawa jodang berisikan makanan sego gurih tumpeng Sewu dan yang terakhir dari barisan pembawa lampu ting minyak tanah atau obor dan oncor sebagai penerangan tempo dulu muter jalan kaki mengelilingi tembok benteng Cempuri yang masih di dalam Baluwarti lanjut Masjid Agung, ini tradisi adat yang sebenarnya," terang Kangjeng Wiro.

Kalau yang sekarang, masih menurut penuturan Kangjeng Wiro, berjalan kaki dari Kamandungan Keraton, Kori Brojonolo Lor, masuk Sitihinggil, Sasana Sumewa Pagelaran, Alun alun Lor hingga Bundaran Gladag ke kiri atau ke Barat sampai Taman Sriwedari Kebon Rojo peninggalan Sinuhun PB X, itu dilakukan Sinuhun oleh PB X yang dimaksudkan untuk meramaikan acara Maleman Sriwedari, pesta rakyat di bulan Ramadhan.

"Yang jelas, keduanya memiliki dasar tersendiri, baik itu LDA maupun Sinuhun PB XIII Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Keduanya baik, karena masih berkenan menguri-uri budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dalam menyambut malam datangnya Lailatul Qadar. Kalau dasar tradisi adat sesuai yang lama, yaitu yang dilakukan LDA," tegas KP Dr Edhie Wirabhumi SH MH. #Yani.


Thanks for reading LDA Lebih Sakral Ritual Malem Selikuran nya | Tags:

Next Article
« Prev Post
Previous Article
Next Post »

TERKAIT

Show comments

HOT NEWS